Kamu duduk di depan laptop, buka file skripsi, terus… diam 15 menit liatin layar kosong.
Sambil mikir,
“Nanti aja deh, otak lagi gak jalan.”
“Lagian dosen juga belum bales revisi.”
“Netflix dulu bentar aja, biar gak stres.”
Dan tiba-tiba udah tiga jam berlalu.
Yup — kamu gak sendiri. Hampir semua mahasiswa pernah merasa malas ngerjain skripsi.
Tapi malas itu bukan sekadar “gak niat.” Ada sebabnya, dan kabar baiknya — ada cara ngatasinnya juga.
1. Karena Kamu Takut Salah atau Takut Dosen Marah
Ini alasan paling umum tapi jarang disadari.
Kamu bukan males, kamu takut.
Takut tulisanmu salah. Takut dibantai pas bimbingan. Takut dikatain “ini belum layak.”
Ketakutan itu bikin kamu menunda kerjaan, karena otakmu ngerasa lebih aman kalau gak mulai sama sekali.
Cara Melawannya:
- Ingat: dosen pembimbing bukan musuh, mereka pelatih.
- Tulislah versi “jelek dulu” — revisi nanti.
- Setiap kali kamu ngerasa takut, ganti pikiranmu jadi: “Tugas aku bukan bikin sempurna, tapi bikin selesai.”
Trik Gen Z:
Dosen lebih suka kamu bawa draft mentah daripada gak bawa apa-apa. Jadi, tulis dulu apa pun yang bisa kamu tulis hari ini.
2. Karena Kamu Terlalu Perfeksionis
Perfeksionis itu kelihatannya keren, tapi sebenarnya bisa jadi jebakan produktivitas.
Kamu pengen tulisanmu bagus banget sampai-sampai gak mulai-mulai karena nunggu “momen sempurna.”
Masalahnya?
Momen sempurna gak akan datang kalau kamu gak mulai.
Cara Melawannya:
- Ganti mindset dari “harus bagus” jadi “harus jalan.”
- Terapkan prinsip Done is better than perfect.
- Atur target kecil kayak “tulis 1 paragraf per 30 menit.”
Trik Gen Z:
Buka file skripsi tanpa ekspektasi. Nulis 1 kalimat aja udah termasuk progres. Besok lanjut 2 kalimat, lama-lama 1 halaman.
3. Karena Kamu Gak Punya Struktur dan Jadwal yang Jelas
Kalau kamu cuma bilang,
“Nanti sore aku ngerjain skripsi.”
itu 90% gak akan kejadian. Karena otakmu gak tahu “sore jam berapa” dan “ngerjain bagian mana.”
Cara Melawannya:
- Buat mini plan harian kayak:
- Jam 19.00–20.00: revisi latar belakang.
- Jam 20.00–20.30: tambahkan 2 teori baru.
- Gunakan metode Pomodoro (25 menit fokus, 5 menit istirahat).
- Catat progresmu di kalender.
Trik Gen Z:
Bikin “ritual skripsi” biar otak langsung mode fokus — misalnya nyalain lagu instrumental dan minum kopi tiap kali mulai nulis.
4. Karena Kamu Bosen Sama Topikmu Sendiri
Banyak mahasiswa milih topik skripsi karena saran dosen, bukan minat pribadi. Akibatnya, begitu sampai Bab 3, langsung kehilangan gairah nulis.
Cara Melawannya:
- Temukan “makna personal” dari topikmu.
Tanyakan: “Apa sih hal menarik dari penelitian ini buatku pribadi?” - Hubungkan topikmu dengan kehidupan nyata atau pekerjaanmu nanti.
- Tambahkan angle baru — misal tambahkan variabel kecil yang kamu suka.
Contoh:
Kalau topikmu tentang motivasi kerja, coba lihat dari sisi Gen Z di era digital — biar lebih relevan dan seru buat kamu bahas.
5. Karena Kamu Overthinking dan Terlalu Banyak Teori di Kepala
Kamu udah baca 20 jurnal, tapi gak nulis satu pun kalimat.
Kamu ngerasa belum cukup referensi, belum yakin teorinya cocok, belum siap bimbingan.
Akhirnya kamu sibuk berpikir, tapi gak ngelakuin apa-apa.
Itu namanya overthinking disguised as preparation.
Cara Melawannya:
- Bikin batas waktu cari referensi: misalnya 2 hari aja.
- Setelah itu, langsung nulis dengan teori yang udah ada.
- Kalau butuh tambahan, tinggal sisipin nanti.
Trik Gen Z:
Kalau kamu udah punya minimal 3 jurnal relevan, itu cukup buat mulai. Sisanya bisa nyusul.
6. Karena Lingkunganmu Gak Mendukung
Kadang masalahnya bukan kamu, tapi lingkungan.
Teman kos ribut, rumah rame, atau kamu gak punya tempat tenang buat fokus.
Cara Melawannya:
- Ganti lokasi nulis: perpustakaan, coworking space, kafe tenang.
- Gunakan headset dan playlist fokus.
- Kalau kerja di rumah, buat “zona skripsi” — meja khusus yang cuma buat nulis.
Trik Gen Z:
Aturan “30 cm”: kalau kamu duduk dan dalam jarak 30 cm ada kasur, kemungkinan kamu produktif = 0%.
7. Karena Kamu Capek Secara Mental
Bisa jadi kamu gak malas, kamu lelah.
Setelah berbulan-bulan revisi, bimbingan, dan kerja, tubuh dan otakmu mungkin cuma butuh istirahat.
Cara Melawannya:
- Ambil jeda 1–2 hari penuh tanpa mikirin skripsi.
- Lakukan hal yang bikin kamu bahagia (jalan, nongkrong, rebahan guilt-free).
- Tapi kasih deadline comeback ke diri sendiri: “Oke, aku libur dua hari, tapi hari Senin lanjut Bab 3 jam 7 malam.”
Trik Gen Z:
Istirahat bukan berarti menyerah. Kadang recharge itu bagian dari produktivitas.
8. Karena Kamu Gak Dapat Feedback Cepat dari Dosen
Gak ada yang lebih bikin malas daripada udah kirim draft tapi dosen gak bales berhari-hari.
Kamu jadi bingung: lanjut nulis atau tunggu koreksi dulu?
Cara Melawannya:
- Jangan berhenti nulis. Lanjut ke bagian lain yang belum dikoreksi.
- Kirim pengingat sopan ke dosen tiap 3–4 hari: “Selamat siang, Pak/Bu. Mohon izin mengingatkan kembali terkait draft Bab 2 yang sudah saya kirim. Saya ingin melanjutkan revisi Bab 3 agar progres tetap berjalan.”
- Gunakan waktu menunggu buat baca jurnal tambahan atau perbaiki format.
Trik Gen Z:
Kamu gak bisa kontrol kecepatan dosen, tapi kamu bisa kontrol progresmu sendiri.
9. Karena Kamu Gak Punya Komunitas atau Teman Seperjuangan
Ngerjain skripsi sendirian itu bikin gampang nyerah.
Tapi kalau kamu punya teman seperjuangan, energi dan semangatmu bisa naik lagi.
Cara Melawannya:
- Cari “teman skripsi” buat saling support atau nulis bareng online.
- Buat grup kecil di WhatsApp atau Discord buat update progres.
- Rayain pencapaian kecil bareng (misal: selesai Bab 2 = traktir kopi bareng).
Trik Gen Z:
Energi positif dari teman seperjuangan itu menular. Jadi, kelilingi dirimu dengan orang yang juga on progress.
10. Karena Kamu Kehilangan Tujuan Akhir
Kadang kamu lupa kenapa kamu mulai.
Kamu fokus ke revisi, teori, data, tapi lupa alasan di balik perjuanganmu.
Padahal, motivasi terbesar kamu bukan skripsinya, tapi apa yang menunggu setelahnya.
Cara Melawannya:
- Bayangin momen wisuda: pakai toga, dipanggil namamu, keluarga tepuk tangan.
- Ingat kata dosen atau teman yang pernah dukung kamu.
- Tempel tulisan motivasi di meja kerja: “Kalau bukan sekarang, kapan lagi?”
“Setiap paragraf hari ini = satu langkah lebih dekat ke toga.”
Trik Gen Z:
Motivasi gak muncul dari langit. Dia tumbuh dari tindakan kecil yang kamu ulang tiap hari.
FAQ: Tentang Rasa Malas dan Skripsi
1. Wajar gak sih merasa malas ngerjain skripsi?
Wajar banget! Semua mahasiswa pernah di fase itu. Yang penting, jangan berhenti terlalu lama.
2. Berapa lama boleh “libur” dari skripsi?
1–2 hari cukup untuk recharge. Lebih dari seminggu bisa bikin kamu kehilangan ritme.
3. Gimana kalau aku udah terlanjur stuck berbulan-bulan?
Mulai dari yang kecil. Baca 1 jurnal, tulis 1 paragraf, kirim ke dosen. Momentum akan datang begitu kamu bergerak.
4. Apakah boleh minta bantuan orang lain ngerjain skripsi?
Boleh bimbingan belajar atau editor bahasa, tapi isi dan analisis tetap harus kamu kerjakan sendiri.
5. Kenapa dosen selalu bilang “tinggal sedikit lagi” padahal revisinya banyak?
Itu cara halus mereka memotivasi kamu biar gak menyerah. Jadi senyum aja dan terus revisi.
Kesimpulan
Rasa malas ngerjain skripsi bukan tanda kamu lemah — itu tanda kamu manusia.
Semua orang pernah kehilangan semangat, tapi yang membedakan antara lulus dan gak lulus cuma satu: